Pada khotbah Jumat hari ini, Jumat 27 Februari di Masjid Al Amanah Kemenkeu, ada satu pernyataan sang khatib yang menarik buat saya. Kurang lebih sang khatib menyatakan, bahwa untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada, kota tidak memerlukan rasul dan kitab suci. Kita memerlukan rasul dan kitab suci bukan untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada melainkan untuk mengetahui siapakah Tuhan itu. Kalau untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada, maka orang-orang kafir Quraisy pun sudah tahu bahwa Tuhan itu ada. Ada banyak malahan menurut versi mereka. Jadi, kita memerlukan Rasul dan Kitab Suci untuk mengetahui siapakah Tuhan. I'll keep that in mind
Dalam postingan sebelumnya saya menyampaikan bahwa umat Islam diwajibkan untuk percaya kepada Al Quran dan Alkitab. Namun, Alkitab yang dimaksud bukanlah keseluruhan Alkitab ( The Bible ), dan sudah pasti Alkitab yang dimaksud bukanlah Alkitab-nya orang Kristen yang meliputi Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu. Alkitab yang dimaksud adalah sebagian dari Kitab Taurat, khususnya Kitab Kejadian. Namun, lebih lanjut lagi Kitab Kejadian yang dimaksud bukanlah seluruh Kitab Kejadian dari Pasal 1 hingga Pasal 50 (Chapter #1 to #50). Ada beberapa alasan yang membuat saya yakin bahwa kita umat muslim tidak dianjurkan untuk membaca keseluruhan Alkitab Kitab Kejadian ( the Book of Genesis ), melainkan beberapa pasal pertamanya saja ( the first few chapters ). Atau kalau di dalam tradisi Judaismen, pembagian Kitab Kejadian tersebut bukan berdasarkan pasal atau chapters , melainkan berdasarkan apa yang disebut sebagai parshat , dimana Kitab Kejadian tersebut dibagi menjadi sepuluh parshat , ...