Langsung ke konten utama

Ayat-ayat Al Quran: antara Teks dengan Praktiknya

Sejak puluhan tahun yang lalu saya sudah menyadari bahwa terdapat sebagian ayat Al Quran yang ternyata berbeda antara teksnya dengan praktiknya. Sebagian ayat tsb misalnya mulai dari umat Islam sebagai umat terbaik, Rasulullah ada di tengah-tengah kita, sampai dengan rukun iman menurut Al Quran. Dan pada tulisan ini, penulis akan membahas tentang rukun iman menurut Al Quran yang cukup berbeda antara teks Al Quran dengan praktik rukum iman menurut mayoritas umat Islam, yakni golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Mayoritas umat Islam, khususnya yang berasal dari golongan sunni, percaya bahwa terdapat enam rukun iman, yakni:

1.       Beriman kepada Allah

2.       Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya

3.       Beriman kepada Nabi Muhammad

4.       Beriman kepada Al Quran dan As Sunnah

5.       Beriman kepada Hari Akhir

6.       Beriman kepada taqdir baik dan taqdir buruk

Padahal, faktanya, Al Quran tidak pernah menyebutkan bahwa rukun iman itu ada enam. (Barangkali ada muslim yang menganggap bahwa QS 57:22-23 sebagai bukti adanya iman kepada takdir, namun menurut penulis, QS 57:22 tsb berbicara tentang musibah atau bencana, bukan mengenai takdir manusia). Rukun iman menurut Al Quran “hanya” ada 5 saja, yakni Iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Nabi/Rasul-Nya (jamak), Kitab-kitab-Nya (jamak), dan Hari Akhir. Namun mereka (mayoritas muslim) mempersempit iman kepada Nabi dan Rasul menjadi iman kepada Nabi Muhammad saja (ingat dua kalimat syahadat), dan mereka mengubah iman kepada Kitab-kitab-Nya menjadai iman kepada Al Quran dan As Sunnah. Namun, tentu saja di bibir mereka maupun di dalam hati mereka, mereka tidak akan mengakui bahwa mereka mengubah rukun iman tersebut. Di bibir mereka mereka menyatakan bahwa mereka percaya kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelum Muhammad, namun faktanya mereka tidak tahu sama sekali ajaran para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad, selain bahwasanya seluruh ajaran Nabi dan Rasul sebelum Muhammad sudah tercatat di dalam Al Quran. Mereka mengakui percaya kepada kitab suci sebelum Al Quran, namun faktanya mereka percaya bahwa seluruh kitab suci sebelum Al Quran, khususnya Taurat dan Injil, sudah diedit dan sudah tidak suci lagi, sehingga diragukan kebenarannya, sehingga mereka tidak pernah mau membaca kitab suci sebelum Al Quran dan tidak mengetahui apa isinya, selain anggapan mereka bahwa semua yang ada di dalam kitab suci sebelum Al Quran sudah tercatat di dalam Al Quran. Pendeknya, mereka beranggapan bahwa iman kepada kitab-kitab suci sebelum Quran hanya secara teori saja, namun tidak perlu dipraktikkan, atau bahkan jangan sampai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya justru berpendapat sebaliknya. Saya percaya bahwa beriman kepada kitab suci sebelum Al Quran itu bukan hanya teori, namun perlu dipraktikkan. Beriman kepada kitab suci sebelum Al Quran bukan hanya sebuah opsi, melainkan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh seluruh orang beriman. Beriman kepada kitab suci sebelum Quran bukan hanya sama pentingnya sebagaimana beriman kepada Al Quran, sebagaimana diisyaratkan dalam berbagai ayat Al Quran, namun boleh jadi beriman kepada kitab suci sebelum Al Quran merupakan prasyarat atau prerequisite yang harus dipenuhi sebelum kita beriman kepada Al Quran.

Ingatlah bahwa ayat Al Quran yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca atau iqra. Kitab apa yang harus dibaca? Menurut pemahaman saya, kitab suci yang ada pada saat itu (pada saat Nabi Muhammad pertama kalinya diangkat sebagai Rasulullah). Dan kitab suci apakah yang dimaksud? Tidak lain dan tidak bukan adalah Alkitab (The Bible), atau lebih sempit lagi kitab Taurat. Kenapa Kitab Taurat?

Dalam Hadits Riwayat Bukhari pada hadits ketiga mengenai turunnya ayat pertama kepada Nabi Muhammad, yakni beberapa ayat pertama dari surat Al Alaq, alkisah Nabi Muhammad ketika itu datang menemui Waraqah bin Naufal, seorang Kristen yang merupakan paman dari Khadijah istri Nabi. Nah, ketika Nabi menceritakan pengalamannya menerima wahyu berupa surat Al Alaq tersebut, Waraqah bin Naufal menyatakan bahwa "ini adalah Namus yang pernah Allah turunkan kepada Musa". Yang menarik, Waraqah tidak mengatakan Malaikat melainkan Namus. Nah, berhubung Waraqah merupakan seorang Kristen, kemungkinan Namus yang dimaksud berasal dari bahasa Yunani, yakni Nomos, yang dalam Alkitab Septuagint yang berbahasa Yunani merupakan terjemahan dari Taurat. Jadi, seolah-olah Waraqah mengatakan bahwa Nabi Muhammad menerima Taurat sebagaimana Nabi Musa menerima Taurat dari Allah.

Dan lebih mengerucut lagi, Taurat yang dimaksud kemungkinan besar bukanlah lima kitab pertama dari Alkitab, atau biasa disebut dengan Pentateuch, melainkan kitab pertamanya saja, yakni Kitab Kejadian atau the Book of Genesis. Kenapa Kitab Kejadian? Karena perintah Iqra dalam surat Al Alaq tersebut meningindikasikan perintah untuk membaca sebuah kitab mengenai penciptaan, khususnya penciptaan manusia. Dan satu-satunya kitab suci yang memenuhi syarat tersebut, sepanjang pengetahuan saya, adalah Kitab Kejadian atau the Book of Genesis.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwasanya Kitab Taurat adalah satu-satunya kitab suci yang dibenarkan oleh Nabi Isa maupun oleh Nabi Muhammad. Dalam berbagai ayat Al Quran (dan juga ayat Injil Matius) disebutkan bahwa Nabi Isa membenarkan apa yang ada di antara kedua tangannya, yakni maksudnya kitab Taurat. Demikian juga dalam berbagai ayatnya Al Quran membenarkan kitab yang ada pada mereka orang-orang Yahudi Madinah pada saat itu, yakni apalagi kalau bukan kitab Taurat (ref 2:41, 89, 91, 101, dlsb).

Konsekuensi logisnya adalah bahwa dengan adanya perintah iqra yang merupakan awal dari turunnya ayat-ayat Al Quran yang diturunkan secara berangsur-angsur adalah bahwa the God who sent down the Quran is the very same as the God who sent down the Torah, bahwasanya Tuhan yang menurunkan Al Quran adalah sosok yang sama persis dengan Elohim yang disebutkan dalam Kitab Kejadian.

Berikut ini merupakan dalil dari Al Quran yang menunjukkan secara tegas bahwa beriman kepada kitab suci sebelum Al Quran adalah sama pentingnya dengan beriman kepada Al Quran. Mengingkari salah satunya mengindikasikan bahwa yang bersangkutan adalah kafir.

1.       Kitab itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa … mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau ….” (QS 2:2,4)

2.       “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (QS 4:136)

3.       “Akan tetapi, orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka dan orang-orang mukmin beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan pada (kitab-kitab) yang diturunkan sebelummu. (Begitu pula) mereka yang melaksanakan salat, yang menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah serta hari Akhir. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar.” (QS 4:162).

4.       “Katakanlah, “Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami (Al-Qur’an) dan pada apa yang diturunkan sebelumnya, dan (kami yakin bahwa) sesungguhnya kebanyakan kamu adalah orang-orang fasik?” (QS 5:59)

5.       “Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran (Al-Qur'an) dari sisi Kami, mereka berkata, "Mengapa tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu?" Bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka dahulu berkata, "(Musa dan Harun adalah) dua pesihir yang bantu-membantu." Dan mereka (juga) berkata, "Sesungguhnya kami sama sekali tidak mempercayai masing-masing mereka itu. Katakanlah (Muhammad), "Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al-Qur'an), niscaya aku mengikutinya, jika kamu orang yang benar" (QS 28:48-49)

6.       Katakanlah, “Kami beriman pada (kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu. Hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (QS 29:46)

7.       Orang-orang yang kufur berkata, “Kami tidak akan pernah beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada (kitab) yang sebelumnya.” (QS 34:31)

Ketujuh ayat Al Quran di atas menegaskan bahwasanya beriman kepada kitab suci sebelum Quran, (yakni Taurat) adalah sama pentingnya dengan beriman kepada Al Quran. 

Ketujuh ayat Al Quran tersebut didukung dengan apa yang tertulis dalam kitab Tafsir At Thabari ketika beliau mengomentari ayat pertama pada surat Ar Ra'd (QS 13) dan Al Hijr (QS 15) sbb:

Alif-Laaam-Miiim-Raa; tilka Aayaatul Kitaab; wallazii unzila ilaika mir Rabbikal haqqu wa laakinna aksaran naasi laa yu'minuun

Alif Lam Mim Ra. Itulah ayat-ayat AlKitab. Dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya). (QS 13:1)

Menurut Thabari, frase tilka ayatul kitab mengacu kepada ayat-ayat Alkitab yang diturunkan sebelum Kitab yang Kuturunkan kepadamu (Muhammad), yakni Al Quran, sedangkan walladzii unzila ilaika Dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar mengacu kepada Al Quran. (ref Tafsir Thabari jilid 15 terbitan pustakazzam hal 103)

Demikian juga dengan QS 15:1 sbb:

Alif-Laaam-Raa; tilka Aayaatul Kitaabi wa Qur-aa-nim Mubiin

Alif Lam Ra. Itulah (sebagian dari) ayat-ayat Kitab (yang sempurna) yaitu (ayat-ayat) Al-Qur'an yang memberi penjelasan.

Menurut Thabari, frase tilka ayatul kitab pada ayat tsb mengacu kepada ayat-ayat yang ada dalam kitab suci sebelum Quran seperti Taurat dan Injil, sedangkan kata wa quran mengacu kepada Al Quran. (ref Tafsir Thabari jilid 15 cetakan pustakazzam hal 695-696)

Namun, pada praktiknya ternyata mayoritas umat Islam hanya percaya kepada Al Quran, namun mengabaikan kitab sebelum Al Quran, khususnya kitab Taurat. Hal ini persis seperti ungkapan orang-orang kafir yang diabadikan di dalam Al Quran surat Al An’am ayat 154 sbb: “ … supaya kamu (tidak) mengatakan, “Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (Yahudi dan Nasrani) dan sesungguhnya kami lengah dari apa yang mereka baca, atau supaya kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya jikalau Kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Sungguh, telah datang kepadamu penjelasan yang nyata, petunjuk, dan rahmat dari Tuhanmu. Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk karena mereka selalu berpaling. (QS 6:156-157).

Jika seseorang beriman kepada kitab sebelum Quran hanya sebatas teori, misalnya percaya bahwasanya dahulu kala pernah turun kitab suci Taurat dan Injil, namun keduanya sudah diubah oleh tangan-tangan manusia, sehingga Taurat dan Injil yang beredar saat ini tidak boleh diimani sehingga kitab Taurat dan Injil tidak membekas ke dalam hati orang-orang beriman, maka menurut saya hal tersebut sama halnya dengan iman iblis yang percaya kepada eksistensi Allah sebagai Penciptanya, atau pun seperti kepercayaan orang-orang China atheis yang percaya bahwasanya Tuhan itu ada, namun keberadaan Tuhan tidak memberi dampak pada kehidupan mereka. Persis seperti iman umat Islam yang percaya di bibir bahwa mereka beriman kepada Taurat dan Injil, namun pada praktiknya iman kepada Taurat (dan Injil) tersebut tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga iman kepada Taurat (dan Injil) tsb tidak memberikan dampak apa-apa dalam kehidupan mereka.

Sebagaimana saya singgung sebelumnya, iman kepada kitab suci sebelum Quran dapat diterapkan dengan melaksanakan perintah iqra, dan mengejawantahkannya dengan cara membaca Alkitab, khususnya beberapa pasal pertama dalam Kitab Kejadian. Kenapa beberapa pasal pertama dalam Kitab Kejadian? Karena perintah iqra tersebut mengindikasikan mengenai kisah penciptaan (langit dan bumi) dan juga kisah penciptaan manusia, yang mana keduanya ada pada beberapa pasal pertama dari kitab Kejadian.

Hal ini diperkuat dengan beberapa ayat awal dari surah Yunus dan surat Ar Ra’du, yang menurut Qatadah dan Mujahid berbicara tentang ayat-ayat Alkitab sebelum Quran. Dalam kedua surat tersebut, frasa tilka aayatul kitab, itulah ayat-ayat Alkitab, disambung dengan ayat mengenai penciptaan langit dan bumi, yang mengisyaratkan tentang kisah penciptaan yang ada di dalam Kitab Kejadian. Berikut ayat yang dimaksud:

1.       Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Alkitab yang penuh hikmah … Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? … Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa. (Yunus 1-6)

2.       Alif Lam Mim Ra. Itulah ayat-ayat AlKitab. Dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya). Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.(Ar Ra’d 1-2)

Dengan demikian, semakin jelaslah bahwasanya beriman kepada kitab sebeelum Quran, khususnya pada Kitab Kejadian atau the Book of Genesis adalah satu hal yang diwajibkan bagi seluruh orang beriman. 

Hikmah beriman kepada Alkitab yang saya rasakan:

  1. Kita menyadari bahwasanya Tuhan yang disembah oleh umat Islam adalah sama dengan Tuhan yang disembah oleh umat Yahudi. Bahwasanya Allah yang ada di dalam Al Quran adalah sosok yang sama dengan Elohim yang ada di dalam Kitab Kejadian 1.
  2. Alkitab menyajikan sejumlah puzzle yang hilang dalam berbagai ayat Al Quran, sehingga dengan membaca Alkitab membuat kita lebih dapat memahami ayat-ayat Al Quran dan juga beberapa hadits Nabi secara lebih baik dan komprehensif.
  3. Membuat kita menyadari bahwa umat Islam bukanlah satu-satunya umat yang berhak untuk masuk surga, melainkan umat terdahulu pun memiliki kesempatan yang sama untuk masuk surga, kalau tidak mau dibilang bahwa mereka bahkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk masuk surga dibandingkan kita umat Islam, sebagaimana disitir dalam surat Al Waqiah ayat 14.
  4. Membuat kita umat Islam menjadi lebih rendah hati, bahwasaanya kita bukanlah pemilik kebenaran, melainkan kita masih harus menimba ilmu dari umat lain, khususnya umat Yahudi, atau lebih tepatnya dari rabbi-rabbi Yahudi di masa lalu. Jika seorang Nabi Muhammad pun dipersilakan untuk bertanya kepada Ahli Kitab (QS 10:94,16:43, dan 21:7), maka siapakah kita sehingga kita enggan untuk menimba ilmu dari rabbi-rabbi Yahudi yang mungkin saja mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui.

Wa Allahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah seorang muslim wajib mempelajari bahasa Arab?

Kemarin, saya mendengar sebuah kutbah selepas solat zuhur di masjid di lingkungan kementerian keuangan, dimana sang pengkotbah menganjurkan para pendengarnya untuk mempelajari bahasa Arab. Alasan beliau antara lain kira-kira, bagaimana mungkin seorang muslim (ajam) dapat men-tadabbur-i Al Quran jika ia tidak faham bahasa Arab. Tidak sempurna pengetahuan seorang muslim akan Al Quran jika ia tidak menguasai bahasa Arab. Kemudian, sang penceramah mengutip pendapat Imam Syafi'i yang konon mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab adalah wajib hukumnya bagi seluruh muslim. Konsekuensi-nya, meninggalkannya adalah dosa. Ketika mendengarkan ceramah ini, dalam hati saya tidak setuju dengan pendapat Imam Syafi'i. Saya langsung teringat kepada Injil. Lho, kok bisa? Begini. Sepengetahuan saya, berdasarkan kesaksian dari Papias, yaitu seorang Bapa Gereja terdahulu, Injil Matius itu pada mulanya ditulis dalam bahasa Ibrani. Pernyataan ini sangat menarik, kontroversial, sekaligus masuk aka...

Tips Memilih Binoculars untuk Astronomi

Binoculars atau keker memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh teleskop atau teropong bintang. Kelebihan itu antara lain: 1. Binoculars berbentuk ringkas, mudah dibawa-bawa, dan mudah digunakan; tidak seperti teropong bintang yang biasanya berbentuk panjang atau besar atau keduanya, cumbersome atau sulit dibawa-bawa, dan cukup repot untuk menggunakannya karena harus memasang tripod dan mount, mengatur view finder, dlsb. 2. Binoculars secara umum memiliki field of view atau sudut pandang yang jauh lebih luas daripada teleskop. 3. Melihat dengan dua mata jauh lebih nyaman daripada melihat dengan satu mata. Walaupun pengguna teleskop dapat menyiasatinya dengan bino-viewer. 4. Harga binoculars lebih bervariasi dari yang murah hingga yang sangat mahal. Kita masih bisa mendapatkan sebuah binocular yang layak pakai dengan harga murah, namun kita tidak mungkin memiliki sebuah teleskop bagus dengan harga murah. Dalam memilih binoculars ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sel...

Yahudi, Nasrani, Sabi', dan Muslim: Umat Yang Satu

Sesungguhnya, umat kalian adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu... (QS 21:92, 23:52). Mengidentifikasi Nasrani, dan Sabi'in dalam QS 2:62 dan 5:69  Ternyata Nasrani itu tidak identik dengan Kristen. Bahkan sebagian rekan-rekan kita yang kristiani lebih suka disebut sebagai Kristen ketimbang disebut sebagai Nasrani. Ketika Al Quran menyebutkan pendeta Nasrani yang mencucurkan air mata ketika mendengar Al Quran (QS 5:82), kemungkinan yang dimaksud adalah pendeta Nasrani dari sekte Ebionites atau Nazarenes , atau sekte yang sama dengan Waraqah bin Naufal, paman dari Khadijah. Hal ini bisa diduga karena dari sahih Bukhari kita mendapatkan kabar bahwa konon katanya Waraqah bin Naufal menuliskan atau menyalin Injil dari bahasa Ibrani (bukan dari bahasa Yunani), sementara kita tahu bahwa sekte Kristen yang menggunakan Injil berbahasa Ibrani adalah sekte Ebionites dan/atau sekte Nazarenes .  Ebionites/Nazarenes ini memiliki ajaran yang sangat berbeda dengan Kristen pada umum...