Judgmental: (1) too quick to criticize people; (2) tending to form opinions too quickly, esp. when disapproving of someone or something (Cambridge Dictionary)
Judgmental: characterized by a tendency to judge harshly (Merriam-Webster)
Judgmental: (adj) if you say that someone is judgmental, you are critical of them because they form opinions of people and situations very quickly, when it would be better for them to wait until they know more about the person or situation. (in American English) making or tending to make judgments as to value, importance, etc, often specific., judgments considered to be lacking of tolerance, compassion, objectivity, etc. (Collins Dictionary)
Judgemental: judging people and criticizing them too quickly (Oxford Learner's Dictonary)
Beberapa bulan belakangan ini saya suka membaca sejumlah jawaban atau tulisan di quora, di mana si penulis atau si penjawab (kebanyakan wanita) menyatakan ketidaksukaannya terhadap orang yang judgmental (american english) atau judgemental (british english), di mana kata ini sebagai adjective atau kata sifat. Terus terang, ini merupakan istilah yang cukup baru untuk saya. Seingat saya, ketika saya masih kecil, sampai ketika saya sudah memasuki dunia kerja sampai dengan beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah mendengar kata ini diucapkan oleh orang Indonesia, atau bahkan oleh orang luar negeri ketika saya kuliah di Australia sekitar tahun 2013-2014. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini kata tersebut cukup sering saya baca, terutama di quora. Tadinya saya tidak begitu menggubris istilah judgmental tersebut ... sampai saya menemukan kata judgmental ini di buku The World of the Ger karya Chaim Clorfene dan David Katz yang sedang saya baca ulang.
Jadi, pada halaman 76 dalam buku The World of the Ger tersebut, Chaim Clorfene membandingkan raja Saul, raja pertama Israel, dengan raja Ahab, raja Israel (kerajaan Utara) yang kesekian. Banyak scholars yang dibuat bingung oleh raja Ahab, karena raja Ahab ini sebenarnya adalah seorang penyembah berhala atau idolaters. Berbanding terbalik dengan raja Saul yang sebenarnya adalah orang soleh (righteous) sekaligus merupakan seorang yang monotheist murni (hamba bertauhid). Namun anehnya, raja Saul yang soleh itu sering kalah dalam perang, sedangkan raja Ahab hampir selalu menang dalam perang, kecuali dalam perang terakhirnya dimana dia terbunuh oleh panah dari Naaman. Nah, apa yang istimewa dari raja Ahab dan pengikutinya dibandingkan raja Saul, sehingga raja Ahab hampir selalu menang dalam perang, walaupun mereka merupakan penyembah patung sapi (berhala) atau idolaters, sedangkan raja Saul dan pengikutnya adalah monotheist murni? Berikut saya kutip dari buku The World of the Ger halaman 76:
... He (Naaman) enters battle against the previously invincible forces of Ahab, the wicked King of Israel.
Ahab had never lost a battle. Many scholars are puzzled by this. Why should an idol worshipping Jewish king be granted repeated victories in war? This is particularly strange when one considers that Saul, a righteous Israelite king, lost many battles.
And it was not merely Saul who was righteous. His soldiers were righteous. And Ahab's soldiers were idolaters whose lives were, therefore, forfeit.
Ahab and his men may have been wicked, but they had great souls. And Saul's men, righteous though they were, had souls of lesser stature. What was the practical difference? Tolerance. Because they had great souls, Ahab and his men loved each other and allowed for the shortcomings of each other. Saul and his men, by contrast, were judgmental and many despised each other. And victory in war is determined in heaven by one human trait alone, unity, achdut in Hebrew, which require harmony and tolerance for each other.
Nah, apa yang tertulis di dalam buku The World of Ger tersebut mengingatkan saya kepada persatuan umat di dalam Al Quran yang tentunya untuk bersatu tersebut dibutuhkan harmony dan toleransi, kalau menggunakan istilah dari Chaim Clorfene. Sesungguhnya, para pengikut Nabi Musa, pengikut Nabi Yesus, pengikut Nabi Muhammad, dan pengikut Nabi Nuh, pada hakikatnya adalah umat yang satu atau ummatan wahidah (QS 23:52 dan 21:92). Namun ironisnya, para pengikut rasul tersebutlah yang justru memecah-mecah agama yang satu ini menjadi beberapa pecahan. Tiap golongan merasa berbeda dibandingkan golongan lain, dan tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.
Di dalam Al Quran, sebenarnya terdapat beberapa sikap atau pandangan yang judgmental. Hanya saja sikap judgmental tersebut ditampilkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang ironisnya sikap tsb juga merupakan sikap mayoritas kelompok muslim ahli sunnah wal jama'ah saat ini. Berikut beberapa ayat judgmental di dalan Al Quran:
- Mereka berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani" (QS 2:111). Sikap judgmental ini juga merupakan pandangan muslim ahli sunnah bahwasanya umat Islam akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, dan semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja yang akan masuk surga (menurut mereka), yakni golongan ahlussunnah wal jama'ah.
- Orang-orang Yahudi berkata: "Orang Nasrani itu tidak menganut suatu agama yang benar" dan orang-orang Nasrani berkata, "Orang Yahudi tidak menganut suatu agama yang benar", padahal mereka (sama-sama) membaca Kitab (yang sama). Demikian orang-orang yang tidak mengetahui berkata seperti ucapan mereka. (QS 2:113). Hal ini mengingatkan saya kepada kelompok salafi pada khususnya yang gemar menuduh kelompok Islam yang lain sebagai kelompok sesat atau ahli bid'ah, padahal kelompok yang mereka tuduh tsb juga membaca Quran dan kitab Hadits yang sama dengan yang dibaca oleh kelompok salafi. Demikian juga golongan ahli sunnah yang gemar mengkafirkan syiah padahal syiah juga beriman kepada Al Quran yang sama dengan Al Qurannya ahli sunnah.
- Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu sampai kamu mengikuti millah mereka (QS 2:120). Walaupun ayat ini ditujukan kepada orang Yahudi dan Nasrani di masa lampau, tapi ironisnya saya justru melihat ayat ini sangat relevan untuk diterapkan kepada sebagian ahli sunnah yang membenci atau minimal tidak suka kepada bangsa Yahudi dan kelompok syiah, sampai Yahudi atau syiah tsb convert kepada Islam Ahli Sunnah. Atau kalau ayat ini diterapkan kepada golongan salafi, maka golongan salafi tidak akan ridho kepada golongan ahli sunnah nonsalafi, sampai golongan sunni nonsalafi tsb mengikuti firqah salafi.
- Lalu mereka (para pengikut rasul) terpecah-belah dalam urusan agamanya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing (QS 23:53, cf 21:92-93, 30:32, 6:159, dan 11:118-119). Nah, inilah yang terjadi pada umat Islam saat ini, dimana setiap golongan Islam yang ada menganggap bahwa hanya golongan merekalah yang benar sementara golongan lain salah. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. Yang salafi merasa bangga dengan ulama-ulama mereka sendiri dan kitab-kitab mereka sendiri. Demikian juga dengan golongan ahlussunnah yang lain juga merasa bangga dengan kitab-kitab mereka sendiri dan ulama-ulama mereka sendiri. Demikian juga golongan Islam lainnya seperti golongan Ibadhi di Oman, Syiah, Quranist yang bangga dengan pemikiran mereka sendiri, dll.
Namun, Al Quran sudah memberikan penangkal sikap judgmental ini, dan berikut merupakan ayat-ayat yang menangkal sikap judgmental:
- Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, ummatan wahidah, dan Akulah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaku (QS 23:52 dan 21:92). Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa pengikut Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad, oada hakikatnya beragama satu, dan kita semua adalah umat yang satu, atau achdut dalam bahasa Ibrani sebagaimana ditulis oleh Chaim Clorefene, dan Tuhan kita semua adalah satu.
- Mereka senantiasa berselisih dalam urusan agama ... kecuali orang yang dirahmati oleh Tuhanmu (QS 11:118-119). Ayat ini mengisyaratkan bahwa hanya orang-orang "terpilih" yang diberi rahmat saja yang tidak akan berselisih dalam urusan agama, karena orang-orang yang dirahmati ini melihat bahwasanya tidak ada perbedaan antara pengikut Taurat, pengikut Injil, dan pengikut Al Quran.
- Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin (umat Nabi Nuh atau the proselytes), dan Nasrani (Jewish Christians), barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan mereka berbuat baik, maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati (QS 5:69 dan 2:62).
- Katakanlah (ya Muhammad): "Kami beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kalian. Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu, dan hanya kepada-Nyalah kita berserah diri (QS 29:46)
- Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah kita menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yakni bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai "tuhan" selain Allah (QS 3:64). Kata "tuhan" dalam tanda kutip tersebut bisa saja seperti menjadikan rabbi, pendeta, ulama Islam, dll sebagai "tuhan" yang memiliki hak dalam menentukan halal/haramnya suatu hal, misalkan seperti ustadz salafi yang mengharamkan pajak (hanya karena berdasarkan pemikirannya sendiri dan sebuah hadits dhaif).
- Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah (QS 22:40)
Nah, berikut ini beberapa contoh sikap judgmental yang sering saya baca dari situs quora, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris:
- Syiah itu bukan Islam. Syiah itu di luar Islam karena mereka punya kitab hadits sendiri yang namanya Al Kafi dll.
- Allah di dalam Al Quran berbeda dengan Tuhan yang ada di dalam Alkitab.
- Allah itu bukan Elohim dan/atau the tetragrammaton di dalam Alkitab
- Orang Yahudi itu menyembah Tuhan yang berbeda dengan Allah-nya umat Islam
Sikap judgmental ini sebenarnya sudah dilarang keras oleh Nabi Yesus, sebagaimana terekam dalam Injil Lukas dan Matius: "Janganlah menghakimi, maka kamu tidak akan dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, maka kamu akan dihakimi. Dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu." Dan hal ini juga diperkuat oleh Yakobus atau James the Just yang mengatakan, "Siapakah kamu sehingga kamu berani menghakimi sesamamu manusia" (Yak 4:12)
Saya merasa bahwa sikap judgmental tersebut pada akhirnya justru akan membawa pelakunya kepada tuduhan yang dia lontarkan sendiri. Plot twist-nya adalah ketika tuduhan yang mereka lontarkan ternyata salah. Misalkan, seorang sunni yang menuduh syiah itu bukan Islam melainkan kafir, tapi ternyata setelah dicermati, syiah itu memenuhi seluruh unsur wajib dalam Islam seperti mengucapkan kalimat syahadat, sholat, puasa ramadhan, dll, maka tuduhan "bukan Islam" tersebut akan kembali kepada si penuduh. Justru si penuduhlah pada akhirnya tidak akan diakui sebagai seorang muslim di akhirat, karena ternyata si penuduh telah "membuat agama sendiri" di dunianya dengan kriteria-kriteria agama yang dibuat sendiri oleh si penuduh.
Atau orang Kristen fanatik yang selama ini bersikeras bahwa Allah bukanlah the God in the Bible, melainkan jin atau setan yang menyamar menjadi malaikat, maka orang-orang Kristen fanatik seperti inilah yang akan sangat celaka di akhirat. Karena tuduhan yang mereka lontarkan kepada Allah, justru akan menyerang mereka sendiri di akhirat kelak.
Oleh sebab itu, yang paling aman adalah berpikiran terbuka bahwa seluruh pengikut rasul-rasul terdahulu mulai dari zaman Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Yesus, sampai dengan Nabi Muhammad, pada hakikatnya adalah satu umat yang sama, yakni ummataw wahidah, dan kita semua menyembah Tuhan yang sama, yakni Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sebagaimana ada tertulis di dalam Kitab Taurat.
Komentar
Posting Komentar