Langsung ke konten utama

Ayat Yang Pertama Kali Turun: What's Going On?

Mayoritas muslim sepakat bahwa ayat Al Quran yang pertama kali diturunkan adalah tiga atau lima ayat pertama dari Surat Al Alaq. Tapi, mungkin tidak banyak muslim yang tahu bahwa itu bukanlah satu-satunya pendapat tunggal yang beredar di kalangan sahabat Nabi.

Jabir bin Abdullah, misalnya, menurut beliau ayat yang pertama kali diturunkan adalah beberapa ayat pertama dari surat Al Muddatsir (QS 74). Wahai orang yang berkemul, bangunlah dan berilah peringatan ... dsb. Tapi, saya membayangkan, jika benar bahwa surat Muddatsir adalah surat yang pertama kali diturunkan, dimana Nabi disuruh untuk memberikan peringatan (atau untuk berdakwah), lalu apa yang harus diperingatkan, atau apa yang akan menjadi materi dakwah Nabi? Bukankah pada saat itu belum ada ayat-ayat tentang Kalimat Tauhid, belum ada ayat-ayat tentang Hari Akhir, dan belum ada aturan tentang halal dan haram? Semuanya masih samar. Lalu materi apa yang harus didakwahkan oleh Nabi kepada kaumnya?

Yang lebih masuk akal adalah pendapat yang menyatakan bahwa ayat yang pertama kali diturunkan adalah Al An'am 151-153. "Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu ... ". Konon, menurut Tafsir Qurthubi juz 30, ini adalah pendapat dari Ali bin Abu Thalib. Namun, walaupun QS 6:151 dst tsb lebih cocok untuk dianggap sebagai ayat yang pertama kali diturunkan ketimbang surat Muddatsir, namun ia tidak didukung oleh riwayat yang kuat. Apalagi kalau kita perhatikan, maka kita akan tahu bahwa ayat Al An'am 151-153 tsb cukup panjang bunyinya, dan ia tidak cocok dengan karakteristik ayat-ayat Al Quran yang pertama-tama kali diturunkan yang bunyinya sangat pendek-pendek.

Riwayat yang masyhur adalah yang riwayat yang menyatakan bahwa ayat Al Quran yang pertama kali diturunkan adalah tiga ayat pertama (atau lima ayat pertama?) dari surat Al Alaq. Iqra bismi rabbikalladzii khalaq. Khalaqal insaana min alaq. Iqra warabbukal akram. 

Kemudian riwayat yg lain juga menginformasikan bahwa urutan empat surat pertama yang diturunkan adalah sbb: 

1. Al Alaq

2. Al Qalam

3. Al Muddatsir

4. Adh Dhuhaa.

Nah, kita tahu bahwa sebelum Adh Dhuha diturunkan, telah terjadi masa kekosongan atau kevakuman turunnya ayat selama beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Bahkan riwayat yang lain menyatakan bahwa masa kekosongan tsb terjadi setelah turunnya ayat pertama (Iqra bismi rabbika).

Kembali ke perintah Iqra bismi rabbika alladzii khalaq. Apakah yang harus dibaca (atau di-recite) oleh Nabi Muhammad? Apakah Al Quran? Saya rasa bukan Al Quran, karena pada saat perintah tsb diturunkan, Al Quran belum ada, apalagi dibukukan menjadi sebuah buku. Jadi, saya berpendapat bahwa yang dimaksud untuk dibaca oleh Nabi bukanlah Al Quran, melainkan sebuah kitab yang lain, sebuah kitab yang isinya diawali dengan penciptaan. Khususnya penciptaan manusia.

Dan setahu saya, di dunia ini hanya ada satu kitab saja yang cocok dengan deskripsi tersebut, yakni Kitab Kejadian, atau the book of Genesis, atau Bereshit dalam bahasa Ibrani. Kalimat pertama dalam kitab ini memang benar-benar diawali dengan penciptaan: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. In the beginning God created the heavens and the earth. Kemudian, pada ayat ke-26 dst disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia (Adam, ha Adam). Atau kalau dalam bahasa Arabnya adalah insan. (NB: dalam beberapa ayat Al Quran, kata insaan dalam Al Quran sering ditafsirkan sebagai Adam sang manusia pertama).

Jadi saya berpendapat bahwa kitab yang harus dibaca oleh Nabi Muhammad (dan para pengikutnya tentunya) adalah Kitab Kejadian atau the book of Genesis. Tapi tidak hanya berhenti sampai pada Kitab Kejadian yang ada di Alkitab, namun yang juga tak kalah pentingnya adalah penafsirannya. Dan sebelum Nabi Muhammad lahir, memang sudah ada semacam "kitab tafsir" untuk Kitab Kejadian ini, namanya Midrash Rabbah atau Beresehit Rabbah. Menurut wikipedia, Bereshit Rabbah atau Genesis Rabbah diperkirakan ditulis antara tahun 300-500 Masehi atau setidaknya satu abad sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul. Dan ngomong-ngomong soal midrash rabbah, pikiran saya langsung tertuju pada surat kedua yang diturunkan, yakni Al Qalam; ayat ke 37: Atau apakah kamu mempunyai kitab yang kamu pelajari? Am lakum kitaabun fiihi tadrusuun. Nah, kata midrash ternyata memiliki akar kata yang sama dengan tadrusun. Hal ini semakin menguatkan kepercayaan saya bahwa kitab yang dimaksud untuk dibaca (dan dipelajari) oleh Nabi Muhammad adalah Kitab Kejadian dan Genesis Rabbah.

Dan jika memang terjadi kekosongan turunnya ayat setelah ayat Iqra tsb diturunkan, maka itu sangat wajar. Karena Allah justru memberikan kesempatan kepada Nabi Muhammad untuk membaca Kitab Kejadian tsb dan mempelajari Bereshit Rabbah kepada orang yang tepat (yakni Waraqah bin Naufal), agar Nabi Muhammad memiliki gambaran mengenai Allah Pencipta Langit dan Bumi. Dan itulah kelak yang harus didakwahkan oleh Nabi kepada kaumnya, yakni orang-orang Quraisy dan bangsa Arab serta seluruh bangsa ummiy pada umumnya. Jadi, ketika surat Al Muddatsir turun, setidaknya Nabi sudah memiliki "bahan" atau materi untuk berdakwah kepada kaumnya.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa sebagai seorang muslim, kita harus membaca dan mempelajari Kitab Kejadian dan Genesis Rabbah/Bereshit Rabbah, khususnya pada 10 chapters pertama, atau 21 pasal pertamanya. Insya Allah, banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dari kitab tsb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah seorang muslim wajib mempelajari bahasa Arab?

Kemarin, saya mendengar sebuah kutbah selepas solat zuhur di masjid di lingkungan kementerian keuangan, dimana sang pengkotbah menganjurkan para pendengarnya untuk mempelajari bahasa Arab. Alasan beliau antara lain kira-kira, bagaimana mungkin seorang muslim (ajam) dapat men-tadabbur-i Al Quran jika ia tidak faham bahasa Arab. Tidak sempurna pengetahuan seorang muslim akan Al Quran jika ia tidak menguasai bahasa Arab. Kemudian, sang penceramah mengutip pendapat Imam Syafi'i yang konon mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab adalah wajib hukumnya bagi seluruh muslim. Konsekuensi-nya, meninggalkannya adalah dosa. Ketika mendengarkan ceramah ini, dalam hati saya tidak setuju dengan pendapat Imam Syafi'i. Saya langsung teringat kepada Injil. Lho, kok bisa? Begini. Sepengetahuan saya, berdasarkan kesaksian dari Papias, yaitu seorang Bapa Gereja terdahulu, Injil Matius itu pada mulanya ditulis dalam bahasa Ibrani. Pernyataan ini sangat menarik, kontroversial, sekaligus masuk aka...

Tips Memilih Binoculars untuk Astronomi

Binoculars atau keker memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh teleskop atau teropong bintang. Kelebihan itu antara lain: 1. Binoculars berbentuk ringkas, mudah dibawa-bawa, dan mudah digunakan; tidak seperti teropong bintang yang biasanya berbentuk panjang atau besar atau keduanya, cumbersome atau sulit dibawa-bawa, dan cukup repot untuk menggunakannya karena harus memasang tripod dan mount, mengatur view finder, dlsb. 2. Binoculars secara umum memiliki field of view atau sudut pandang yang jauh lebih luas daripada teleskop. 3. Melihat dengan dua mata jauh lebih nyaman daripada melihat dengan satu mata. Walaupun pengguna teleskop dapat menyiasatinya dengan bino-viewer. 4. Harga binoculars lebih bervariasi dari yang murah hingga yang sangat mahal. Kita masih bisa mendapatkan sebuah binocular yang layak pakai dengan harga murah, namun kita tidak mungkin memiliki sebuah teleskop bagus dengan harga murah. Dalam memilih binoculars ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sel...

Mencari Pecahan Koin Perak yang Pas

Sebagaimana diketahui bahwa satuan dari koin perak ( silver coins ) pada umumnya adalah menggunakan satuan troy ounce (oz), dimana 1 oz itu sekitar 31,1 gram. Nilai dari sekeping koin perak seberat 1 oz  dengan menggunakan harga saat ini kurang lebih USD 20~an atau kalau dirupiahkan sekitar tiga ratus ribuan rupiah (belum termasuk ongkos kirim ke Indonesia). Menurut saya, uang senilai Rp 300.000an,- masih terlalu besar untuk digunakan sehari-hari di Indonesia. Untuk membeli makanan di Indonesia, misalnya, biasanya kita cukup merogoh kocek sebesar Rp 100.000,- dan itu sudah cukup untuk membeli makanan untuk satu keluarga yang terdiri dari 3 orang. Di sini, kita masih bisa membeli seporsi nasi beserta lauk dengan harga sekitar 20.000 hingga 30.000 rupiah. Bahkan, untuk makanan tertentu seperti lontong sayur, kita masih bisa membelinya dengan harga sepuluh ribu rupiah. Kalau di luar negeri seperti di Australia, misalnya, keadaannya agak berbeda. Di Australia, harga barang terutama m...