Langsung ke konten utama

Pascal's Wager, Inti Ajaran Al Quran, dan Hal Yang Diabaikan (Overlooked) oleh Mayoritas Muslim

Sekitar empat abad yang lalu, ada seorang matematikawan, fisikawan, sekaligus filsuf asal Perancis yang mengemukakan hypothesis-nya bahwa bagi seseorang jauh lebih aman jika ia percaya kepada Tuhan dibandingkan jika ia tidak percaya keberadaan Tuhan (atheist).

Kurang lebih, Blaise Pascal mengemukakan sebagai berikut:

  1. Setiap orang, tanpa kecuali, harus bertaruh, apakah Tuhan itu ada atau Tuhan itu tidak ada.
  2. Jika seseorang bertaruh bahwa Tuhan itu ada, dan oleh karena itu selama hidup dia mentaati perintah agama, dan ternyata Tuhan itu memang benar ada, maka selamatlah si orang ini dan dia akan memperoleh pahala yang tak terhingga. Namun, dalam hal ternyata Tuhan itu tidak ada, maka si orang ini tidak terlalu rugi banyak, paling-paling dia hanya kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang tanpa batas selama dia hidup di dunia. Itu saja risikonya kalau ternyata Tuhan itu tidak ada.
  3. Jika seseorang bertaruh bahwa Tuhan itu tidak ada dan ternyata Tuhan itu memang benar tidak ada, maka paling-paling keuntungan si atheist ini adalah bahwa dia bisa bersenang-senang selama dia hidup di dunia, tidak lebih dari itu. Namun, jika ternyata Tuhan itu ada, maka celakalah si atheist ini selama-lamanya karena dia akan mendapatkan hukuman yang tidak terhingga.
  4. Oleh karena itu, menurut Pascal, jauh lebih aman bagi seseorang untuk bertaruh bahwa Tuhan itu memang ada.

Namun demikian, argumen Blaise Pascal ini di-challenge oleh atheist masa kini. Perlu diketahui bahwa ketika Blaise Pascal mengemukakan hypothesis-nya, yang dia maksud sebagai Tuhan adalah Tuhan versi Kristen, termasuk doktrin trinitas di dalamnya. Hal inilah yang ditentang oleh atheist, karena menurut atheist, bisa saja Tuhan itu memang ada, namun Tuhan yang benar itu bukanlah Tuhan versi agama Kristen melainkan Tuhan versi agama lain. Dalam kasus ini, menurut atheist, menyembah Tuhan yang salah, yakni Tuhan versi agama Kristen, akan sama celakanya dengan atheist yang tidak menyembah Tuhan sama sekali. Lebih lanjut, atheist berargumen bahwa di dunia ini terdapat sekitar 3000~5000 agama, dan masing-masing meng-klaim sebagai satu-satunya agama yang benar (padahal kenyataannya tidak demikian). Oleh karena itu menurt atheist, kemungkinan selamatnya seseorang itu sekitar 1 berbanding 5000, atau hampir sama dengan nol. Jadi, menurut atheist, beragama ataupun tidak, kans-nya untuk selamat di akhirat pada dasarnya sama saja.

Nah, saya jadi berpikir, mungkin saja sedikit banyak pemikiran atheist tersebut memiliki kesamaan dengan pemikiran kaum kafir Quraisy pada masa Nabi Muhammad SAW. Mungkin saja para kafir Quraisy sudah mengetahui bahwa terdapat sedemikian banyak jumlah agama yang ada, namun mereka tidak tahu agama mana yang benar dan tuhan mana yang benar. Bedanya orang kafir Quraisy dengan atheist adalah jika atheist tidak mau menyembah Tuhan sama sekali, maka orang-orang kafir Quraisy justru kebalikannya, mereka justru menyembah semua tuhan yang mereka kenal. Oleh karena itu, tidak heran jika dahulu kala Ka'bah pernah dipenuhi oleh sejumlah patung berhala seperti Latta, Uzza, Manat, Hubal, dan lain-lain. Bukan tidak mungkin di dalam Ka'bah juga terdapat patung Yesus Kristus, patung Dewa Siwa, patung Kresna, patung Ganesha, patung Ahura Mazda, dan sebagainya sampai berjumlah 360 patung berhala. Bayangan saya, orang-orang kafir Quraisy ingin main aman dengan cara menyembah semua tuhan yang ada pada saat itu, sehingga peluang untuk selamat dalam "Pertaruhan Pascal" tersebut sangat besar. Namun, kita tahu bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy yang menyembah semua tuhan yang ada sama salahnya dengan orang-orang atheist yang tidak mau menyembah Tuhan sama sekali.

Oleh karena itu, kemudian Al Quran diturunkan untuk menjernihkan semuanya. Sebagaimana dikatakan oleh salah satu ulama yang pernah saya dengar khotbahnya (ada di posting sebelumnya), bahwasanya diturunkannya Kitab Allah dan juga diutusnya Rasulullah bukan untuk mengajarkan kepada manusia bahwa Tuhan itu ada. Karena kalau untuk itu, orang-orang kafir Quraisy pun juga sudah tahu bahwa Tuhan Pencipta Langit dan Bumi itu memang ada (QS 10:31, 13:16, 31:25, 39:38, 43:9, 87). Kita memerlukan Kitab Suci dan Rasul untuk mengetahui siapakah Tuhan kita! Karena sebagaimana kita semua ketahui, ada banyak agama di dunia, dan sebagian besar agama tersebut memiliki tuhan yang berbeda-beda, ada Hubal, Latta, Dewa Siwa, Wisnu, Yesus Kristus, Ahura Mazda, dan lain sebagainya. Nah, tugas pokok Kitab dan Rasul itu untuk menerangkan Tuhan mana yang benar?

Dan itulah inti ajaran Al Quran. Inti ajaran Islam adalah menafikan semua tuhan yang ada, yakni tuhan-tuhan yang ada pada agama lain seperti dewa-dewa Mesir, dewa-dewa bangsa Sumeria, Akkadian, Phoneicia, Ba'al, Latta, Uzza, Manat, Hubal, Dewa Siwa, Kresna, Ganesha, dan yang terakhir ... Yesus Kristus. Islam menafikan semua dewa-dewa tersebut, kecuali satu Tuhan saja (QS 38:5, 7). Tuhan yang manakah itu?

Sebenarnya, Tuhan yang Satu ini mengarah kepada Tuhan yang sama dengan Tuhan yang ada di dalam Kitab Suci sebelumnya, yakni Taurat, dan ini sudah diindikasikan dalam berbagai ayat Al Quran, maupun dalam bentuk allusion, bahkan sejak ayat pertama Al Quran yang diturunkan (Iqra bismi rabbikalladzii khalaq, khalqal insaana min alaq). Berulangkali ayat Al Quran meyebutkan bahwa Tuhanlah Pencipta Langit dan Bumi yang diciptakan-Nya dalam 6 hari, persis sebagaimana disebutkan dalam Kitab Taurat, khususnya Kitab Kejadian. Tuhanlah yang mencipatakan Adam, manusia (modern) pertama, sama seperti tertulis di dalam Taurat. Tuhan yang menurunkan banjir di masa Nabi Nuh, sama seperti di Kitab Taurat. Tuhannya Abraham, Ishak, dan Yakub (QS 12:38), sama seperti sebutan Tuhan di dalam Kitab Tanakh. 

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Nabi Muhammad tidak membuat agama yang baru dan dia tidak membuat Tuhan yang baru, melainkan beliau hanya mengikuti agama (millah) yang sudah ada, yaitu agamanya Ibrahim (Abraham). Otomatis, Tuhannya Nabi Muhammad adalah sama dengan Tuhannya Nabi Ibrahim (God of Abraham). Jadi, pada dasarnya Tuhannya orang mukmin adalah sama persis dengan Tuhannya orang-orang Yahudi (QS 29:46). Bagaimanapun, Nabi Ibrahim adalah kakek kandungnya orang-orang Yahudi.

Namun, ironisnya, banyak muslim masa kini yang sangat sempit pikirannya, dan dia menganggap bahwa Tuhannya orang-orang Yahudi berbeda dengan Tuhannya orang-orang Islam. Dengan demikian, mereka sebenarnya telah mengabaikan sejumlah ayat-ayat Al Quran yang mewajibkan seluruh mukmin untuk beriman kepada Kitab Suci sebelum Al Quran, khususnya Taurat (ref 4:136, 2:2-4, 28:48-49, 10:1, 13:1, 15:1, 46:10, 12, 30, 35:31-32, dan masih banyak lagi). Tidak heran jika oknum-oknum muslim yang picik ini menganggap bahwa hanya manhaj dia sajalah yang benar, sementara manhaj/firqah lain salah. Mereka tidak sadar, jika demikian, maka sesungguhnya mereka telah melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani di masa lalu yang sangat dikecam oleh Al Quran (2:111,113). Na'udzu billah min dzalik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah seorang muslim wajib mempelajari bahasa Arab?

Kemarin, saya mendengar sebuah kutbah selepas solat zuhur di masjid di lingkungan kementerian keuangan, dimana sang pengkotbah menganjurkan para pendengarnya untuk mempelajari bahasa Arab. Alasan beliau antara lain kira-kira, bagaimana mungkin seorang muslim (ajam) dapat men-tadabbur-i Al Quran jika ia tidak faham bahasa Arab. Tidak sempurna pengetahuan seorang muslim akan Al Quran jika ia tidak menguasai bahasa Arab. Kemudian, sang penceramah mengutip pendapat Imam Syafi'i yang konon mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab adalah wajib hukumnya bagi seluruh muslim. Konsekuensi-nya, meninggalkannya adalah dosa. Ketika mendengarkan ceramah ini, dalam hati saya tidak setuju dengan pendapat Imam Syafi'i. Saya langsung teringat kepada Injil. Lho, kok bisa? Begini. Sepengetahuan saya, berdasarkan kesaksian dari Papias, yaitu seorang Bapa Gereja terdahulu, Injil Matius itu pada mulanya ditulis dalam bahasa Ibrani. Pernyataan ini sangat menarik, kontroversial, sekaligus masuk aka...

Menjadi Ummatan Wasathan: Umat Pertengahan atawa Moderat

Setelah belasan tahun saya membaca dan mempelajari Kitab Injil dengan berbagai variasinya mulai dari Injil Perjanjian Baru, Injil Thomas, Injil Q, Injil Ibrani atau Hebrew Matthew , dan yang terakhir Injil Marcion, saya mendapatkan kesimpulan bahwa Kitab Injil tidak ditujukan untuk saya, dan barangkali juga tidak diperuntukkan untuk bangsa non-Israel atau bangsa gentiles seperti kita pada umumnya. Terdapat beberapa clue bahwa kitab Injil tidak ditujukan untuk bangsa gentiles , namun ia diperuntukkan untuk bangsa Yahudi atau bangsa Israel. Beberapa petunjuk bahwa Injil itu sebenarnya ditujukan untuk bani Israel adalah sebagai berikut: 1. Di dalam Al Quran, Nabi Isa menyatakan bahwa beliau diutus untuk bani Israel. (ref QS 61:6, dan 43:59). Hal senada juga terdapat dalam Injil Matius. (ref: Mat 15:24). 2. Yesus melarang murid-muridnya untuk berdakwah kepada bangsa gentiles (Mat 10:5) 3. Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan kepada para pendengarnya (yang dapat diasumsikan adalah orang-...

Mengimani Kitab Sebelum Al Quran

Di dalam Al Quran, terdapat satu ayat khusus yang mewajibkan orang-orang beriman untuk beriman kepada Kitab sebelum Al Quran. Ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Hai orang-orang beriman, tetapah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya (yaitu Al Quran) dan Kitab yang Allah turunkan sebelumnya . Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya." (QS 4:136) Pada umumnya sebagian muslim tidak terlalu memperhatikan ayat ini. Maintsream muslim menganggap bahwa Kitab (atau kitab-kitab) sebelum Al Quran saat ini sudah tidak ada lagi karena baik kitab suci umat Kristiani (yaitu Alkitab/Bible) maupun kitab suci umat Yahudi (yaitu Tanakh/Alkitab Perjanjian Lama) yang beredar saat ini sudah tidak asli lagi, sehingga ia tidak perlu diimani. Mainstream muslim percaya bahwa kitab sebelum Al Quran yang wajib diimani orang-ora...