Langsung ke konten utama

Salah

 "Setiap anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertobat" (Sunan Ad Darimi 2611/2769, Tirmidzi. Ibnu Majah, Ahmad)

Ya, semua manusia pasti melakukan kesalahan, termasuk orang-orang beriman. Atau bahkan khususnya orang-orang beriman pasti melakukan kesalahan dalam usahanya untuk beriman

Ada dua jenis kesalahan yang dilakukan oleh orang beriman atau orang yang percaya:

1. Mengimani sesuatu yang salah

2. Mengimani sesuatu secara salah

Pertama, mengimani sesuatu yang salah. Misalnya, orang-orang Kristen Appalachian di Amerika Serikat sangat mengimani ayat Injil Markus 16:18 secara harfiah/literal. Lalu bagaimana seandainya Yesus sama sekali tidak pernah mengatakan apa yang tertulis dalam Markus 16:18, dan akibatnya sebagian orang-orang Kristen Appalachian tewas akibat mereka mengimani sesuatu yang salah? Bukankah para pemegang ular Appalachian tsb adalah orang-orang yang nati konyol untuk agamanya?

Kedua, mengimani sesuatu secara salah. Misalnya, dalam Al Quran ada tertulis bahwa orang-orang Yahudi itu "mengubah perkataan dari tempat-tempatnya" (QS 4:46, 5:13, 41). Lalu dengan bermodalkan ayat ini serta pemahaman yang terbatas, maka sebagian muslim jump to conclusion dan menganggap bahwa seluruh Alkitab yang beredar saat ini, baik Tanakh maupun the Christian Bible, semuanya sudah diubah, dan semuanya 100% palsu. Sehingga, ketika si oknum muslim ini berdebat dengan orang Kristen, kemudian si Kristen menyodorkan suatu ayat Alkitab dan si oknum muslim mengingkarinya, padahal sebenarnya apa yang disodorkan si Kristen ini adalah benar Firman Tuhan sementara si muslim menolak mempercayainya, maka celakalah si muslim ini karena ia telah menolak kebenaran secara harfiah.

Sangat mungkin kita semua pernah atau masih/sedang melakukan kedua jenis kesalahan ini sekaligus, sementara kita tidak menyadarinya. Boleh jadi selama ini kita menuduh orang lain sebagai orang yang salah, sesat, kafir, padahal sebenarnya kita pun juga melakukan kesalahan yang sama, atau bahkan mungkin kita yang lebih parah.

Oleh karena itu, Yesus sudah mewanti-wanti, janganlah kamu menghakimi agar kamu tidak dihakimi. Kalau saya paraphrase, jangan terlalu yakin bahwa hanya pikiran kamu yang paling benar sedangkan pandangan orang lain salah. Boleh jadi, justru kamu yang salah, tapi kamu tidak tahu kalau kamu salah. Mangkanya, jangan sok yakin dengan pendapatmu sendiri sampai kamu berani memvonis orang lain sebagai golongan sesat, dan jangan sok paling faham agama sehingga kamu berani menghakimi orang lain. 

Sebagai orang beriman, yang paling aman adalah mengembalikan segala sesuatu kepada Kitab Allah, yakni Al Quran dan Kitab sebelum Al Quran semisal kitab Taurat.

Wa Allahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah seorang muslim wajib mempelajari bahasa Arab?

Kemarin, saya mendengar sebuah kutbah selepas solat zuhur di masjid di lingkungan kementerian keuangan, dimana sang pengkotbah menganjurkan para pendengarnya untuk mempelajari bahasa Arab. Alasan beliau antara lain kira-kira, bagaimana mungkin seorang muslim (ajam) dapat men-tadabbur-i Al Quran jika ia tidak faham bahasa Arab. Tidak sempurna pengetahuan seorang muslim akan Al Quran jika ia tidak menguasai bahasa Arab. Kemudian, sang penceramah mengutip pendapat Imam Syafi'i yang konon mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab adalah wajib hukumnya bagi seluruh muslim. Konsekuensi-nya, meninggalkannya adalah dosa. Ketika mendengarkan ceramah ini, dalam hati saya tidak setuju dengan pendapat Imam Syafi'i. Saya langsung teringat kepada Injil. Lho, kok bisa? Begini. Sepengetahuan saya, berdasarkan kesaksian dari Papias, yaitu seorang Bapa Gereja terdahulu, Injil Matius itu pada mulanya ditulis dalam bahasa Ibrani. Pernyataan ini sangat menarik, kontroversial, sekaligus masuk aka...

Menjadi Ummatan Wasathan: Umat Pertengahan atawa Moderat

Setelah belasan tahun saya membaca dan mempelajari Kitab Injil dengan berbagai variasinya mulai dari Injil Perjanjian Baru, Injil Thomas, Injil Q, Injil Ibrani atau Hebrew Matthew , dan yang terakhir Injil Marcion, saya mendapatkan kesimpulan bahwa Kitab Injil tidak ditujukan untuk saya, dan barangkali juga tidak diperuntukkan untuk bangsa non-Israel atau bangsa gentiles seperti kita pada umumnya. Terdapat beberapa clue bahwa kitab Injil tidak ditujukan untuk bangsa gentiles , namun ia diperuntukkan untuk bangsa Yahudi atau bangsa Israel. Beberapa petunjuk bahwa Injil itu sebenarnya ditujukan untuk bani Israel adalah sebagai berikut: 1. Di dalam Al Quran, Nabi Isa menyatakan bahwa beliau diutus untuk bani Israel. (ref QS 61:6, dan 43:59). Hal senada juga terdapat dalam Injil Matius. (ref: Mat 15:24). 2. Yesus melarang murid-muridnya untuk berdakwah kepada bangsa gentiles (Mat 10:5) 3. Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan kepada para pendengarnya (yang dapat diasumsikan adalah orang-...

Mengimani Kitab Sebelum Al Quran

Di dalam Al Quran, terdapat satu ayat khusus yang mewajibkan orang-orang beriman untuk beriman kepada Kitab sebelum Al Quran. Ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Hai orang-orang beriman, tetapah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya (yaitu Al Quran) dan Kitab yang Allah turunkan sebelumnya . Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya." (QS 4:136) Pada umumnya sebagian muslim tidak terlalu memperhatikan ayat ini. Maintsream muslim menganggap bahwa Kitab (atau kitab-kitab) sebelum Al Quran saat ini sudah tidak ada lagi karena baik kitab suci umat Kristiani (yaitu Alkitab/Bible) maupun kitab suci umat Yahudi (yaitu Tanakh/Alkitab Perjanjian Lama) yang beredar saat ini sudah tidak asli lagi, sehingga ia tidak perlu diimani. Mainstream muslim percaya bahwa kitab sebelum Al Quran yang wajib diimani orang-ora...